Izinkan saya menulis tentang dinihari. Tentang jam-jam para insomniak, ketika malam sudah tak bisa disebut malam tapi pagi belum datang. Tentang orang-orang yang tak tidur, seperti kau dan aku, tak bisa tidur, mereka yang terpekur atau bengong atau bekerja apa saja, berdoa apa saja, mereka yang mencoba melupakan kesendirian, atau justru memasuki kesendirian.
Izinkan saya menulis tentang gelap. Dinihari adalah saat ketika gelap, yang berhimpun sejak senja, akan berakhir. Tapi di dinihari pula gelap seperti tak hendak pergi. Justru (sebuah e-mail datang dan kamu mengingatkan saya, mengutip Paulo Coelho), ”saat paling gelap dalam seluruh hari adalah menjelang terang.” Agaknya pada diniharilah gelap adalah sebuah ajektif bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kelebihan: gelap adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya; ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya.
Kesementaraan, juga kelebihan. Barangkali kedua-duanya yang membuat dinihari mempertautkan manusia dengan yang kekal. Di biara yang jauh dari keramaian, para rahib bangun pukul 03.30 pagi. Masing-masing melakukan doa pribadi di bilik yang sempit. Pada pukul 04.00, misa bersama mulai.
Dan selama Ramadan, makan sahur dilakukan di saat itu pula. Orang bisa mengatakan, fisik kita perlu dijaga dengan beberapa suap nasi sebelum puasa 12 jam. Tapi jangan-jangan semua itu bukanlah buat kesehatan—makan di jam seperti itu justru tidak membantu metabolisme tubuh—melainkan buat merasakan hubungan antara yang indrawi, yang badani, dan transisi saat. Ketika kita tahu hidup begitu sejenak, kita pun akan bertanya adakah segalanya juga fana—dan tidakkah pengertian tentang ”fana” hanya bisa dimengerti jika ada yang ”bukan-fana”, jika disandingkan dengan yang abadi? Meskipun yang abadi tak pernah kita alami?
Dalam gelap dinihari, jika yang abadi bisa terasa hadir, mungkin karena ada hubungan antara keabadian dan kuasa, dan ada hubungan kuasa dengan misteri. Ia tak pernah bisa ditebak. Ia semacam peringatan akan apa yang kurang pada kita—yang menyebabkan kita selamanya terbelah, antara kini yang rapuh dan kelak yang tak jelas, antara kini yang hadir dan kelak yang kita tak pernah tahu.
Justru karena dinihari juga akan berhenti. Ia juga bagian dari keterbatasan dan kesementaraan. Gelap tak bisa mutlak. ”Aku tak takut gelap,” kau bilang. ”Dalam gelap aku bisa menemukan kedamaian.” Tapi mungkin juga karena kita temui gelap tak sendirian: ia sebuah beda, ia sebuah intermezzo di dunia yang diberondong cahaya. Ada cahaya surya yang tua, ada cahaya yang dibikin Thomas Alva Edison, ada cahaya bintang yang sporadis, ada kilau lampu-lampu iklan yang kian agresif. Maka gelap adalah selingan dari terang yang gaduh. Kita tahu terang telah jadi bagian dari proyek manusia menguasai bumi—yang tak membuat kedamaian hal yang lumrah.
Tapi tak selamanya gelap sebuah intermezzo. Ia bisa jadi awal putus harapan. Pada 1815, lebih dari separuh abad sebelum Krakatau, sebuah gunung di Nusantara meletus. Sampai setahun berikutnya, debu yang muncrat dari kepundan Tambora itu menutupi langit. Matahari terkurung cadar tebal. Bulan padam. Di Eropa, tahun berikutnya semacam perubahan cuaca terjadi. Tahun itu kemudian diingat sebagai ”tahun tanpa musim panas”. Pada tahun itu pula penyair besar Inggris Lord Byron menulis sebuah sajak yang memukau, Darkness.
…dan bintang-bintang
menggelandang di ruang kekal
tanpa sinar, tanpa jalur,
dan Bumi yang dingin
bergoyang, buta…
Terkurung gelap debu Tambora itu, pagi datang dan pergi, tak membawa siang. ”Morn came and went—and came, and brought no day.” Dan ombak mati, pasang berdiam di kuburnya, sementara Bulan, ”tuan putri mereka, telah padam sebelumnya.” Angin pun lingsut di udara yang tak bergerak, awan musnah. Tapi, tulis Byron, ”Gelap tak perlu bantuan dari mereka. Gelap adalah Alam Semesta itu sendiri. She was the Universe.”
Sedikit berlebihan, tentu saja, seperti setiap sajak. Sebab selalu ada jarak antara alam semesta dengan gelap dan terang. Itulah sebabnya dinihari begitu penting: perbatasan; transisi; pertemuan dua hal, momen perbedaan, momen ketidakstabilan, tapi juga keterbukaan.
Mungkin itulah kita bisa saling merindukan—kita yang lain, kita yang beda, kita yang mungkin belum pernah bertemu. Di jam-jam awal dari hari, di dinihari, ketika kita dengarkan dengan sedikit tergetar oleh kangen yang tak terelakkan Sting menyanyi, ”In the wee small hours of the morning.” Dan kita dengar trompet Chris Botti meningkah, dan terasa, semua yang akan berakhir sejenak seperti sesuatu yang abadi.
Oktober 2008
Goenawan Mohamad
Wednesday, May 02, 2012
Sebuah Sajak Rimbaud, Sebuah Lagu Ferre
Léo Ferré menafsir-nyanyikan salah
satu sajak Rimbaud yang terkenal, 'Les Poets de Sept Ans' (Para Penyair
Berumur Tujuh Tahun) -- satu cara mempertemukan musik dan puisi ('musikalisasi
puisi') yang membariskan kata-kata ke depan, sementara yang musikal mengiringi,
atau mengantar, yang verbal, ibarat penabuh genderang dan nafiri.
Ferré (1916-1993) sendiri seorang
penyair. Ia bahkan pernah menulis novel, meskipun ia sejak awal terpaut pada
musik, mencintai karya Ravel dan dan akhirnya dikenal sebagai penggubah
lagu dan penyanyi. Salah satu lagi gubahannya yang terkenal, 'Avec Le
Temps' (Bersama Waktu), menunjukkan ia melanjutkan corak melodi chanson Prancis
yang kelihatan pada lagu-lagu sejak Edith Piaf, J. Berl sampai dengan Francoise
Hardy: liris, dengan emosi yang tak ditahan, antara melankoli dan
gairah. Saya pernah melihat dalam YouTube Jane Birkin menyanyikan itu:
matanya basah.
Ferré, seorang Anarkis, juga
menggubah musik untuk puisi Baudelaire, penyair yang 'dikutuk' itu, dan puisi
Aragon, penyair surrealis yang kemudian jadi tokoh sastra Partai Komunis.
Sajak Rimbaud ini (ditulis 26
Mei 1871) pertautan yang memukau antara baris-baris naratif dan imajistis:
anak-anak adalah penyair, dan penyair adalah anak-anak, yang diam-diam
memberontak kekangan Sang Ibu. Sang pengawas tak tahu bahwa si anak
mencemooh, bahkan menampik, apa yang dikehendakinya. Bocah itu
membangkang dengan dusta: ia pura-pura patuh, tapi tiap kali Sang Ibu
meninggalkannya, ia akan menjulurkan lidah mengejek. Di kamarnya, ia pun
menulis novel-novel tentang 'Hutan, mentari, sungai, savana!' -- 'kehidupan
padang pasir, di mana Kemerdekaan diasingkan.'
Yang paling ingin dihindarinya
adalah 'hari-hari Minggu bulan Desember', ketika ia harus duduk di depan meja
besar dan membaca Alkitab. Di malam hari mimpi akan menekannya. 'Ia tak
mencintai Tuhan,', tulis Rimbaud tentang anak itu, 'melainkan orang-orang
berbaju kerja warna gelap/ yang berjalan kembali ke tepi kota/ ketika senja
menguning-jingga.'
Suara Ferré berat tapi terang. Di
akhir nyanyiannya (atau pembacaannya?), ia ledakkan kata-kata Rimbaud: si anak,
sendirian terbaring di secarik kain kanvas kasar, merasakan dengan sangat akan
datang layar kapal. Sebuah alusi tentang perjalanan yang jauh. Imajinasi
selalu akan membebaskan diri.
Juli 2011
Goenawan Mohamad
Saturday, April 28, 2012
Di Assisi
Tuhan dengan suara yang aneh
melepaskan sayap malaikat
yang ingin terbang
dan tak kembali ke mural ini.
Berkah akan jadi tua,
juga batu-merah sepanjang hujan,
dan yang suci akan jadi hijau,
dan di langit El Gerco,
yang tak – fana
mungkin tak mengerti
kenapa cinta adalah sedih
yang tersisa
seperti remah pada meja
pagi hari
2005
Sebelum Bom
Sebelum bom itu meledak
Ia lihat pantai:
laut (yang belum selesai menghapal ombak)
melepaskan teja
yang hamper padam.
Hijau tak diacuhkan hujan, agaknya,
juga burung yang bertebar
di lading garam.
Dan ingin tidur.
Tapi di kamar ini Tia, seekor kucing.
mencakari kaca akuarium,
dan ikan-ikan tua
mengatupkan insang
ketika jam bundar itu
melepaskan tak-tik-toknya
ke cuaca, dan ia tak ingat benar
adakah bunga dalam vas itu
ia namai “krisantenum”
sebelum mati.
Sebelum bom itu meledak
2005
Di Jalan ke Arah Biara
Di jalan ke arah biara
bulan seperti suasa.
Langit lembab
tuhan tak tertanda
Tapi lereng itu rimbun
ke arah dusun.
Tebing menahan dingin, dan angin
seperti surat bahagia, dengan kata Latin
yang tak berarti apa-apa
2005
Aubade
Di halte pertama
seorang masinis menyanyi
seorang masinis menyanyi
karena tak terasa lagi dinihari. Pukul 5,
orang-orang tetap tak melihatnya
Tapi kota itu terbangun
oleh rel riuh, suara subuh,
sisa gerimis, tembilang ayam jantan
yang lama mengais.
seorang pelacur pun pulang
ke arah anak di kelas yang jauh,
“Telah kusiapkan sabak itu, Ibu,
telah kutuliskan namaku”
2005
Saturday, April 14, 2012
Belajar Dari Pantun
Pidato untuk Hari Jadi Sastrawan Negara dan Profesor Emeritus Muhammad Haji Salleh; Penang, 14 Maret 2012.
Tak perlu saya uraikan panjang: hari ini saya mendapatkan kehormatan dan kebahagiaan sekaligus. Diundang untuk menyajikan sesuatu pada ulangtahun ke-70 seorang sastrawan terkemuka yang dihormati dalam masyarakat sastra Melayu di Malaysia, Singapura, dan Indonesia, berarti sebuah kepercayaan yang istimewa. Berada di tengah kegembiraan mendampingi Muhammad Haji Salleh di hari kelahiran beliau merupakan sebuah bonus, sebuah karunia tambahan, yang tak datang sembarang waktu.
Sebagai seorang yang satu generasi -- saya lebih tua beberapa belas bulan -- saya sadar, usia 70 tidak akan pernah datang buat kedua kalinya. Pada titik ini, ujung jalan di depan itu sudah tampak; tiap kali hari bertambah, kita pun kian mendekat ke sana.
Dan hari tak akan berulang. Saya selalu berpendapat bahwa kata 'ulang tahun' dalam bahasa Melayu-Indonesia untuk 'birthday' adalah sebuah kesalahan. Tanggal 26 Maret tidak berulang di kurun yang berbeda. Tiap tahun adalah tahun baru. Sebab itu sebuah ucapan jenaka dalam bahasa Inggris ada benarnya: 'Birthdays are good for you; the more you have them, the longer you live.'
Dengan mengutip itu, saya ingin mengucapkan selamat kepada Muhammad Haji Salleh, seraya berdoa, semoga tahun baru ini setidaknya akan memberi cabaran dan kesempatan bagi beliau untuk melahirkan karya-karya yang cemerlang. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
Karena itulah dalam kesempatan ini saya tak akan sekedar mengenang buah tangan Muhammad Haji Salleh, seperti galibnya orang memperingati seorang yang usianya di atas setengah abad. Saya akan mengenang karya beliau, tetapi juga ingin mengembangkannya -- sebagai tanda penghargaan saya kepada yang telah disumbangkannya kepada kesusastraan kita.
Demikianlah, dalam kesempatan ini saya memilih untuk berbicara tentang pantun -- bentuk ungkapan sastra yang dikenal akrab baik di Malaysia maupun di Indonesia, yang berkat telaah Muhammad Haji Salleh yang original dan perseptif, bertambah jelas nilainya bagi kita.
Tidak mengherankan bila kita bukan saja mendapatkan pantun dalam permainan anak-anak. Kita juga menemukannyab dalam karya penyair dan penulis lakon terkemuka. Pantun tak hanya mengutarakan pemikiran, tapi juga, seperti dikatakan Muhammad dalam eseinya, 'Estetika Pantun Melayu', 'perasaan, kesenian dan perkelilingannya,' dan semua itu 'dikutip' dalam 'jumlah yang besar, rinci lagi dalam'.
Dengan petunjuk yang disebut dari telaah itu, saya akan mengambil dua pasal kearifan di antara sekian pasal lain yang saya anggap dapat dipetik dari pantun.
Thursday, February 02, 2012
Aung San Suu Kyi
Someone will be set free and stay as eternal
as the green of the dry season
Someone will be set free and be as sour-black
as the monsoon
Someone will be set free and will run
or tire
And the sky will shrink and the stars
Shift
And between the pole of the seven flags and the pale peak
of the pagoda
Someone will be set free
and disappear
But perhaps someone will be set free and see
the dangling stems
stems on the handkerchief tree,
stems on the slopes of the road
to Mandalay
1996-1997
(Translated from the original by Eddin Khoo)
as the green of the dry season
Someone will be set free and be as sour-black
as the monsoon
Someone will be set free and will run
or tire
And the sky will shrink and the stars
Shift
And between the pole of the seven flags and the pale peak
of the pagoda
Someone will be set free
and disappear
But perhaps someone will be set free and see
the dangling stems
stems on the handkerchief tree,
stems on the slopes of the road
to Mandalay
1996-1997
(Translated from the original by Eddin Khoo)
Wednesday, January 25, 2012
Friday, January 20, 2012
Not
Malam itu ia coba tirukan,
dengan bunyi senar gitar, tetes air
yang saling bertemu
di talang serambi.
Tapi yang terbentuk dari langit
hanya lagu.
'Aku tak ingin lagu',
katanya.
Tak seorang pun tahu apa yang ia inginkan. Mungkin sesuatu yang lepas,
not yang tak terkait dengan angin yang datang ke bubungan ketika hampir fajar.
'Kau selalu menghendaki yang sulit'
-- itu kesimpulan perempuan yang tidur
di sebelahnya
pada dinihari sebelumnya.
Ia mengangguk. 'Aku selalu berdoa
kepada Tuhan yang tak sengaja', sahutnya, 'Tuhan yang sudah lama mati.'
Dan ia kembali memetik senar.
Menjelang matahari terbit,
di atas deretan gudang ia lihat langit memperlihatkan kilat sejenak.
Lampu-lampu menghalaunya.
Akan ada petir yang jatuh
pada penangkal di sebuah bukit, pikirnya,
jauh di pedalaman,
tak tahu ia tak akan hilang.
'Bersama sebuah not'.
2012

gambar: Hugo Lugo
dengan bunyi senar gitar, tetes air
yang saling bertemu
di talang serambi.
Tapi yang terbentuk dari langit
hanya lagu.
'Aku tak ingin lagu',
katanya.
Tak seorang pun tahu apa yang ia inginkan. Mungkin sesuatu yang lepas,
not yang tak terkait dengan angin yang datang ke bubungan ketika hampir fajar.
'Kau selalu menghendaki yang sulit'
-- itu kesimpulan perempuan yang tidur
di sebelahnya
pada dinihari sebelumnya.
Ia mengangguk. 'Aku selalu berdoa
kepada Tuhan yang tak sengaja', sahutnya, 'Tuhan yang sudah lama mati.'
Dan ia kembali memetik senar.
Menjelang matahari terbit,
di atas deretan gudang ia lihat langit memperlihatkan kilat sejenak.
Lampu-lampu menghalaunya.
Akan ada petir yang jatuh
pada penangkal di sebuah bukit, pikirnya,
jauh di pedalaman,
tak tahu ia tak akan hilang.
'Bersama sebuah not'.
2012

gambar: Hugo Lugo
U
Surga terletak di telapak kaki ibu, ia selalu ingat itu: perempuan tua penyapu jalan yang tak dikenalnya yang memberinya seraut tapal kuda dan berkata, 'Kutemukan ini; coba kau simpan'.
Sejak itu di tas sekolahnya ada tapal kuda yang separuh berkarat. Tiap pagi, sebelum memasuki kelas, ia merabanya: sesaat, entah di mana, ia dengar gerit pintu kandang dibuka dan bunyi langkah ksatria yang belum ia beri nama: seorang kurus yang meregangkan kakinya di sanggurdi dan berangkat membunuh Boma di perbatasan.
Di kedai tukang kebun, terkadang ia tunjukkan tapal kuda itu kepada siapa saja yang duduk di dekatnya. Siapa saja tak pernah tahu apa yang sebaiknya dikatakan. Beberapa orang hanya berkata, 'Wah!' dan pergi.
Beberapa tahun kemudian ia menangis untuk ayahnya yang menghilang di Semenanjung dan ibunya yang memahat kayu sampai jauh malam. Digenggamnya tapal kuda itu di jam-jam sebelum tidur, karena ia ingin bermimpi Boma tak mengalahkan ksatria yang tak bernama itu, meskipun kuda itu pulang tak berpenunggang.
Dulu ia pernah percaya besi berkarat yang disimpannya itu juga terpasang di kuda kavaleri yang terjun ke jurang dengan leher tertembak. Tapi kemudian ia menemukan sejumlah cerita lain yang setelah 25 tahun berlalu ia lupakan.
Kini, di studionya, tapal kuda itu terpasang pada tepi meja gambar: seraut U yang bersahaja, sebuah desain dengan sederet lobang yang seakan-akan malu menyembunyikan kesedihan.
Tapi mungkin juga bukan kesedihan. Kemarin malam di atas kertas ia goreskan pensil mengikuti lengkung U. Lalu ia gambar sebuah candi di sebuah hutan Bali yang hampir tak kelihatan karena kabut. 'Ini cerita perjalanan yang lama', demikian ia berkata kepada anaknya yang menatapnya dengan takjub.
'Aku melihat kuda itu, Ayah'.
'Apa warnanya, Isa?'
'Ungu, tapi kakinya putih. Di pelananya duduk seorang ibu yang tua'.
'Bukan seorang ksatria yang kurus?'
'Bukan'.
Ia diam. Dielusnya kepala anak itu.
Di depan jendela studio, kemudian, ketika ia sejenak melihat ke gelap, ia dengar berisik sebuah jalan yang tak dikenalnya. Seperti di pagi hari. Seorang ibu tua penyapu jalan, dengan seragam kuning yang berlumpur, terbungkuk memungut sesuatu dari sampah.
Di antara asap mobil yang lewat, benda itu berkilau. Seperti setangkai daun surga.
2012
Sejak itu di tas sekolahnya ada tapal kuda yang separuh berkarat. Tiap pagi, sebelum memasuki kelas, ia merabanya: sesaat, entah di mana, ia dengar gerit pintu kandang dibuka dan bunyi langkah ksatria yang belum ia beri nama: seorang kurus yang meregangkan kakinya di sanggurdi dan berangkat membunuh Boma di perbatasan.
Di kedai tukang kebun, terkadang ia tunjukkan tapal kuda itu kepada siapa saja yang duduk di dekatnya. Siapa saja tak pernah tahu apa yang sebaiknya dikatakan. Beberapa orang hanya berkata, 'Wah!' dan pergi.
Beberapa tahun kemudian ia menangis untuk ayahnya yang menghilang di Semenanjung dan ibunya yang memahat kayu sampai jauh malam. Digenggamnya tapal kuda itu di jam-jam sebelum tidur, karena ia ingin bermimpi Boma tak mengalahkan ksatria yang tak bernama itu, meskipun kuda itu pulang tak berpenunggang.
Dulu ia pernah percaya besi berkarat yang disimpannya itu juga terpasang di kuda kavaleri yang terjun ke jurang dengan leher tertembak. Tapi kemudian ia menemukan sejumlah cerita lain yang setelah 25 tahun berlalu ia lupakan.
Kini, di studionya, tapal kuda itu terpasang pada tepi meja gambar: seraut U yang bersahaja, sebuah desain dengan sederet lobang yang seakan-akan malu menyembunyikan kesedihan.
Tapi mungkin juga bukan kesedihan. Kemarin malam di atas kertas ia goreskan pensil mengikuti lengkung U. Lalu ia gambar sebuah candi di sebuah hutan Bali yang hampir tak kelihatan karena kabut. 'Ini cerita perjalanan yang lama', demikian ia berkata kepada anaknya yang menatapnya dengan takjub.
'Aku melihat kuda itu, Ayah'.
'Apa warnanya, Isa?'
'Ungu, tapi kakinya putih. Di pelananya duduk seorang ibu yang tua'.
'Bukan seorang ksatria yang kurus?'
'Bukan'.
Ia diam. Dielusnya kepala anak itu.
Di depan jendela studio, kemudian, ketika ia sejenak melihat ke gelap, ia dengar berisik sebuah jalan yang tak dikenalnya. Seperti di pagi hari. Seorang ibu tua penyapu jalan, dengan seragam kuning yang berlumpur, terbungkuk memungut sesuatu dari sampah.
Di antara asap mobil yang lewat, benda itu berkilau. Seperti setangkai daun surga.
2012
Wednesday, December 21, 2011
DI PROSENIUM
They live their lives
in sad cafes and music halls
- Janis Ian.
Di kursinya yang hitam,
ia masih belum juga bernyanyi.
Di prosenium yang setengah terang itu
ia memandang ke utara. Matanya mabuk.
Tutup piano itu mengkilap seperti dahinya
yang berkeringat. Mulutnya mabuk.
‘Daud…’, tiba-tiba nama itu disebutnya.
Suara itu keras, tapi tak lurus.
Di gedung itu penonton senantiasa murah hati.
Dalam gelap, teater menunggu: seorang diva,
sebuah cerita panjang yang mungkin akan dinyanyikan,
koridor yang berwarna seperti harapan,
ruang konser yang mulai tua,
bunyi langkah yang takut tapi terbujuk,
dan sebuah suara viola yang sedang dicoba.
Beberapa menit berlalu.
Tuts itu pun mulai bergetar.
Perempuan di prosenium itu menyebut lagi, ‘Daud..’,
meskipun ia tahu yang dipanggilnya tak di sana.
‘Daud….’ -- lalu terdengar baris pertama,
‘Bintang datang bintang pergi,
seperti sisa singkat matahari’.
Dan piano itu memberinya melodi.
Siapa Daud, sebenarnya?
Seperti kau dan aku, barangkali,
sebuah komposisi,sebuah lagu yang seperti arus
mengikis tebing
dan mendapatkan namanya kemudian,
setelah selesai digumamkan.
Di dalamnya Daud berjalan dari kota ke kota,
bersama band yang lusuh,
di lorong music hall dan bar yang sedih,
dan berangkat lagi, tiap kali.
Sebelum tepuk tangan.
‘Kau tak akan sampai di prosenium
Kau tak akan sampai di prosenium
Mawar kering sebelum harum’.
Barangkali ia tahu,di sebuah bangku stasiun
Daud duduk malam itu
dengan gitar yang terbungkus.
Dan kereta lewat.
2011
in sad cafes and music halls
- Janis Ian.
Di kursinya yang hitam,
ia masih belum juga bernyanyi.
Di prosenium yang setengah terang itu
ia memandang ke utara. Matanya mabuk.
Tutup piano itu mengkilap seperti dahinya
yang berkeringat. Mulutnya mabuk.
‘Daud…’, tiba-tiba nama itu disebutnya.
Suara itu keras, tapi tak lurus.
Di gedung itu penonton senantiasa murah hati.
Dalam gelap, teater menunggu: seorang diva,
sebuah cerita panjang yang mungkin akan dinyanyikan,
koridor yang berwarna seperti harapan,
ruang konser yang mulai tua,
bunyi langkah yang takut tapi terbujuk,
dan sebuah suara viola yang sedang dicoba.
Beberapa menit berlalu.
Tuts itu pun mulai bergetar.
Perempuan di prosenium itu menyebut lagi, ‘Daud..’,
meskipun ia tahu yang dipanggilnya tak di sana.
‘Daud….’ -- lalu terdengar baris pertama,
‘Bintang datang bintang pergi,
seperti sisa singkat matahari’.
Dan piano itu memberinya melodi.
Siapa Daud, sebenarnya?
Seperti kau dan aku, barangkali,
sebuah komposisi,sebuah lagu yang seperti arus
mengikis tebing
dan mendapatkan namanya kemudian,
setelah selesai digumamkan.
Di dalamnya Daud berjalan dari kota ke kota,
bersama band yang lusuh,
di lorong music hall dan bar yang sedih,
dan berangkat lagi, tiap kali.
Sebelum tepuk tangan.
‘Kau tak akan sampai di prosenium
Kau tak akan sampai di prosenium
Mawar kering sebelum harum’.
Barangkali ia tahu,di sebuah bangku stasiun
Daud duduk malam itu
dengan gitar yang terbungkus.
Dan kereta lewat.
2011
DI UJUNG BAHASA
Kita menunggu malam
dengan Hp yang diam.
Mungkin akan jatuh bunyi ‘tidak’
bersama dering yang dimatikan.
Dan cinta kita
bersembunyi
di ujung bahasa
yang tak dilanjutkan
di mana Entah mendaku waktu
dan ruang
dan kita akan berkata-kata,
dan akan berpura-pura
mengertinya.
2011
dengan Hp yang diam.
Mungkin akan jatuh bunyi ‘tidak’
bersama dering yang dimatikan.
Dan cinta kita
bersembunyi
di ujung bahasa
yang tak dilanjutkan
di mana Entah mendaku waktu
dan ruang
dan kita akan berkata-kata,
dan akan berpura-pura
mengertinya.
2011
LACRIMOSA
*
Akhirnya mereka temukan kotak hitam itu
70 meter di timur kawah.
Akhirnya aku dengar suaramu.
*
Seseorang memanggilmu seperti mendesak
dan kau menyahut, dari dalam kokpit,
agak gemetar, ‘Abu itu
membentuk langit.’
*
Dan kau coba untuk tak berdoa.
*
Hanya ada sebuah rekuiem
dari CD. Belum selesai:
‘Lacrimosa dies illa…’
Beri hari
airmata
yang akan hilang,
seperti luka.
Lalu dentuman.
Lalu guncangan
Logam-logam retak.
Tak ada yang berteriak.
*
Perjalanan, Wresti, selalu melintasi
detik yang putus
di tiap pelabuhan.
Tapi tak seorang pun
yang percaya.
Mungkin cerita
memang tak bisa berhenti.
*
Lima pekan setelah itu
regu SAR menemukanmu
di antara sebelas jasad
yang mengering hitam
seperti coretan tinta cina
pada paranada.
Aku bayangkan sebuah orkes
memainkannya:
not-not yang tersandar
di lahar dingin,
di sebuah ruang
di mana Ajal berdiri,
dan kau berdiri,
dan kur menyeru
ke arah awan tua
yang melintas
yang tak berisi
apa-apa.
‘Lacrimosa dies illa…’
*
Biarkan hari
memilih abu
dan airmata
yang akan tak ada.
2011
Akhirnya mereka temukan kotak hitam itu
70 meter di timur kawah.
Akhirnya aku dengar suaramu.
*
Seseorang memanggilmu seperti mendesak
dan kau menyahut, dari dalam kokpit,
agak gemetar, ‘Abu itu
membentuk langit.’
*
Dan kau coba untuk tak berdoa.
*
Hanya ada sebuah rekuiem
dari CD. Belum selesai:
‘Lacrimosa dies illa…’
Beri hari
airmata
yang akan hilang,
seperti luka.
Lalu dentuman.
Lalu guncangan
Logam-logam retak.
Tak ada yang berteriak.
*
Perjalanan, Wresti, selalu melintasi
detik yang putus
di tiap pelabuhan.
Tapi tak seorang pun
yang percaya.
Mungkin cerita
memang tak bisa berhenti.
*
Lima pekan setelah itu
regu SAR menemukanmu
di antara sebelas jasad
yang mengering hitam
seperti coretan tinta cina
pada paranada.
Aku bayangkan sebuah orkes
memainkannya:
not-not yang tersandar
di lahar dingin,
di sebuah ruang
di mana Ajal berdiri,
dan kau berdiri,
dan kur menyeru
ke arah awan tua
yang melintas
yang tak berisi
apa-apa.
‘Lacrimosa dies illa…’
*
Biarkan hari
memilih abu
dan airmata
yang akan tak ada.
2011
HIKAYAT SRI RAMA
KUMBAKARNA
Ayah itu bercerita tentang seorang penidur yang sakti,
seorang tambun yang bertapa di bukit,
yang mendengkur dan ingin bermimpi
tentang negeri yang tak punya raja.
‘Ia bernama Kumbakarna’.
Anaknya hanya memahat kayu, mungkin
separuh mendengarkan. Ia tahu cerita itu akan berakhir
dengan kematian; ia ingin pahat itu tak melukai
tubuh ikan yang dibentuknya, karena sedih akan jadi
panjang dan umur (ia merasa begitu) hanya pendek.
‘”Aku menunggumu, Alengka, di jalan yang tak mudah”,
kata Kumbakarna sebelum berangkat.
‘Meninggalkan tujuh pengawal yang menemaninya,
si tambun pun menyeberangi
bentangan hutan. Dan sejak pagi itu,
di Alengka semua berhenti. Kata-kata,
selalu dimaksudkan, selalu didesakkan,
berubah seperti defile prajurit yang berputar.
Tak ada lagi garis depan.
‘Esoknya, dari tepi selat, orang melihat 1000 makhluk aneh
melintasi laut. Hanya samar. Kabut membentuk
berpuluh-puluh cerita. Seorang pengintai mengatakan
ada musuh datang dari Kiskenda, tapi tak ada yang tahu
benarkah ada negeri Kiskenda.
‘Kumbakarna berbisik, ”tidak”,
dan ia pergi ke lekuk bukit.
Di luar cerita, anak itu meraut sirip
dan membayangkan arus yang biru gelap,
di mana tak ada yang tak bergerak,
juga kematian.
Ayahnya pun menutup ceritanya, lelah:
‘Di jalan yang tak mudah,
Kumbakarna bermimpi
tentang sebuah negeri yang tak punya raja.’
TRIJATHA
Aku akan mencintaimu, monyet tua,
karena engkau adalah lelaki
yang memalsukan diri.
Kudengar kesedihanmu. Tapi juga
aku tahu apa yang kau percayai.
Telah kau katakan kepada senja yang hujan:
‘Aku Kapi Jembawan yang tak akan berakhir;
aku mengubah,
aku seperti curah air;
aku mungkin trembesi
yang tak ditakdirkan’.
Saat itu langit pasti mendengar,
seperti bumi mendengar
derum guruh.
Jangan takut. Meskipun kau tahu: pada tiap datang gelap
dan nyanyian katak dari semak yang tergenang,
aku memang inginkan dengus seorang pangeran
yang telah bersumpah
akan menolak tubuhku.
Leksmana, pangeran Ayudhya yang menang,
ingin menghilang kembali ke dalam hutan.
Ia adalah ajal, bisiknya kepadaku,
yang mengikatkan diri.
Kau tahu kita semua bisa menangis
Maka sentuhkan rambutmu yang menakutkan, monyet tua,
ke bibirku. Apak, kusut, kering. Tanpa berahi, ranjang
tetap akan menutupkan selimutnya
sebelum lampu padam.
Relief pada tembok
tetap tak akan selesai bercerita
tentang seorang dewa
yang melepaskan zakarnya.
Kita semua
bisa menangis.
SUGRIWA
‘Aku telah berkhianat’, kata kera merah itu.
‘Apa yang terjadi?’ tanya sang pertapa.
‘Aku tak mengerti: telah datang dua orang asing dari Ayudya
yang membunuh saudara kandungku, dan aku memeluk mereka
sebelum aku memeluk tubuh saudaraku, dan mereka berkata
dengan suara yang tenteram, “ada keadilan”.
‘Aku takut’, sambung kera merah itu pula.
‘Kita tak perlu takut kepada yang ada dan bisa jelas’.
Empat malam sebelumnya, dari sebelah tenggara hutan
pertapa itu mendengar jerit: ‘Namaku Subali!’.
Ia pun berjalan mendekat. Bulan hanya sebelah.
Dalam terang yang terbatas, ditemukannya genangan darah
dan sehelai daun tal yang tergeletak. Seekor burung pungguk
memandangi dari gelap -- merasa lebih mengerti tentang malam
dan jejak yang terhapus.
Keadilan dan kematian begitu sederhana di semak kosong ini.
Juga sesal dan suara sedih. ‘Aku memang ingin
ia tak ada,’ kata kera merah itu pula,
‘tapi aku tak ingin membunuh Subali.’
‘Kau tak membunuhnya, Sugriwa. Ada perang
dan keinginan yang selalu bukan milik kita’.
SITA
Letakkan pelan kesunyianmu, Rahwana, di sisi
kesunyianku. Hanya ada pohon nagasari
yang tumbuh hitam
di sudut taman.
Kota separuh hangus.
Dan di tahta yang kosong
di dalam, jauh di dalam, ingatan
telah jadi bekas.
EPILOG
Anak itu selesai meraut hiu dari kayu
dan melontarkannya ke danau.
Ia tak mengatakan apa-apa,
tapi ayahnya tahu, di pahat itu
hikayat memilih arahnya sendiri.
‘Dongeng adalah metamorfosa, ayah,
karena kiasan berhenti
dan Sita menolak
perjalanan ke Ayudya lagi.’
‘Apa yang terjadi dengan Sita?’ tanya sang ayah.
‘Ia terjun ke telaga
mencari ikan terbang
yang menentang kematian.’
‘Tapi di sebuah hutan, jauh dari istana Rama yang pulih,
dua pangeran piatu yang menyingkirkan diri
membentuk busur bambu dan urat daging:
“Kami Kusya dan Lawa,
pembangkang yang berkabung,
yang tak ingin
siapapun mati.”
‘Tapi dalam mimpi mereka
mereka bunuh ayah mereka.
‘Dengan rahang mengetam mereka berbisik,
“Jangan Paduka sentuh ibu kami: permaisuri
itu telah lama bertopang di punggung hiu,
mencari arah ikan terbang”
Dan dalam cerita saya ini, ayah itu pun
menatap cemas
mata anaknya.
‘Kita tak pernah mengerti Sri Rama’,
katanya.
2011
Ayah itu bercerita tentang seorang penidur yang sakti,
seorang tambun yang bertapa di bukit,
yang mendengkur dan ingin bermimpi
tentang negeri yang tak punya raja.
‘Ia bernama Kumbakarna’.
Anaknya hanya memahat kayu, mungkin
separuh mendengarkan. Ia tahu cerita itu akan berakhir
dengan kematian; ia ingin pahat itu tak melukai
tubuh ikan yang dibentuknya, karena sedih akan jadi
panjang dan umur (ia merasa begitu) hanya pendek.
‘”Aku menunggumu, Alengka, di jalan yang tak mudah”,
kata Kumbakarna sebelum berangkat.
‘Meninggalkan tujuh pengawal yang menemaninya,
si tambun pun menyeberangi
bentangan hutan. Dan sejak pagi itu,
di Alengka semua berhenti. Kata-kata,
selalu dimaksudkan, selalu didesakkan,
berubah seperti defile prajurit yang berputar.
Tak ada lagi garis depan.
‘Esoknya, dari tepi selat, orang melihat 1000 makhluk aneh
melintasi laut. Hanya samar. Kabut membentuk
berpuluh-puluh cerita. Seorang pengintai mengatakan
ada musuh datang dari Kiskenda, tapi tak ada yang tahu
benarkah ada negeri Kiskenda.
‘Kumbakarna berbisik, ”tidak”,
dan ia pergi ke lekuk bukit.
Di luar cerita, anak itu meraut sirip
dan membayangkan arus yang biru gelap,
di mana tak ada yang tak bergerak,
juga kematian.
Ayahnya pun menutup ceritanya, lelah:
‘Di jalan yang tak mudah,
Kumbakarna bermimpi
tentang sebuah negeri yang tak punya raja.’
TRIJATHA
Aku akan mencintaimu, monyet tua,
karena engkau adalah lelaki
yang memalsukan diri.
Kudengar kesedihanmu. Tapi juga
aku tahu apa yang kau percayai.
Telah kau katakan kepada senja yang hujan:
‘Aku Kapi Jembawan yang tak akan berakhir;
aku mengubah,
aku seperti curah air;
aku mungkin trembesi
yang tak ditakdirkan’.
Saat itu langit pasti mendengar,
seperti bumi mendengar
derum guruh.
Jangan takut. Meskipun kau tahu: pada tiap datang gelap
dan nyanyian katak dari semak yang tergenang,
aku memang inginkan dengus seorang pangeran
yang telah bersumpah
akan menolak tubuhku.
Leksmana, pangeran Ayudhya yang menang,
ingin menghilang kembali ke dalam hutan.
Ia adalah ajal, bisiknya kepadaku,
yang mengikatkan diri.
Kau tahu kita semua bisa menangis
Maka sentuhkan rambutmu yang menakutkan, monyet tua,
ke bibirku. Apak, kusut, kering. Tanpa berahi, ranjang
tetap akan menutupkan selimutnya
sebelum lampu padam.
Relief pada tembok
tetap tak akan selesai bercerita
tentang seorang dewa
yang melepaskan zakarnya.
Kita semua
bisa menangis.
SUGRIWA
‘Aku telah berkhianat’, kata kera merah itu.
‘Apa yang terjadi?’ tanya sang pertapa.
‘Aku tak mengerti: telah datang dua orang asing dari Ayudya
yang membunuh saudara kandungku, dan aku memeluk mereka
sebelum aku memeluk tubuh saudaraku, dan mereka berkata
dengan suara yang tenteram, “ada keadilan”.
‘Aku takut’, sambung kera merah itu pula.
‘Kita tak perlu takut kepada yang ada dan bisa jelas’.
Empat malam sebelumnya, dari sebelah tenggara hutan
pertapa itu mendengar jerit: ‘Namaku Subali!’.
Ia pun berjalan mendekat. Bulan hanya sebelah.
Dalam terang yang terbatas, ditemukannya genangan darah
dan sehelai daun tal yang tergeletak. Seekor burung pungguk
memandangi dari gelap -- merasa lebih mengerti tentang malam
dan jejak yang terhapus.
Keadilan dan kematian begitu sederhana di semak kosong ini.
Juga sesal dan suara sedih. ‘Aku memang ingin
ia tak ada,’ kata kera merah itu pula,
‘tapi aku tak ingin membunuh Subali.’
‘Kau tak membunuhnya, Sugriwa. Ada perang
dan keinginan yang selalu bukan milik kita’.
SITA
Letakkan pelan kesunyianmu, Rahwana, di sisi
kesunyianku. Hanya ada pohon nagasari
yang tumbuh hitam
di sudut taman.
Kota separuh hangus.
Dan di tahta yang kosong
di dalam, jauh di dalam, ingatan
telah jadi bekas.
EPILOG
Anak itu selesai meraut hiu dari kayu
dan melontarkannya ke danau.
Ia tak mengatakan apa-apa,
tapi ayahnya tahu, di pahat itu
hikayat memilih arahnya sendiri.
‘Dongeng adalah metamorfosa, ayah,
karena kiasan berhenti
dan Sita menolak
perjalanan ke Ayudya lagi.’
‘Apa yang terjadi dengan Sita?’ tanya sang ayah.
‘Ia terjun ke telaga
mencari ikan terbang
yang menentang kematian.’
‘Tapi di sebuah hutan, jauh dari istana Rama yang pulih,
dua pangeran piatu yang menyingkirkan diri
membentuk busur bambu dan urat daging:
“Kami Kusya dan Lawa,
pembangkang yang berkabung,
yang tak ingin
siapapun mati.”
‘Tapi dalam mimpi mereka
mereka bunuh ayah mereka.
‘Dengan rahang mengetam mereka berbisik,
“Jangan Paduka sentuh ibu kami: permaisuri
itu telah lama bertopang di punggung hiu,
mencari arah ikan terbang”
Dan dalam cerita saya ini, ayah itu pun
menatap cemas
mata anaknya.
‘Kita tak pernah mengerti Sri Rama’,
katanya.
2011
Subscribe to:
Posts (Atom)
